Indahnya Alam dan Keragaman budaya Sumenep

pdip-sumenep-niakurnia-fauzi

 

Oleh: Nia Kurnia Fauzi

Memasuki wilayah Madura belum keren jika tidak berkunjung ke Sumenep, dan berbicara Sumenep tidak ada habisnya untuk diperbincangkan, sebab Kabupaten paling ujung timur pulau Madura ini memiliki bayak kekayaan akan ragam Budaya dan Pariwisata yang melimpah.

Apalagi, hari ini sedang dilaksanakan Festival Keraton dan Masyrakat Adat Asean (FKMA) ke V. Presiden Joko Widodo beserta istri Iriana Jokowi turut hadir dalam acara ini, Para Raja se Nusantara dan ASEAN hari ini masih sedang berada di Kabupaten yang berjuluk Kota Sumekar ini.

Hal ini tentu menjadi suatu kebahagiaan dan kebanggaan buat masyarakat Sumenep, dalam kesempatan ini pula sebagai tuan rumah FKMA ke V, tentu menjadi ajang memperluas jalinan silaturahim untuk mengenal adat budaya dan suku yang berbeda, dengan inilah kita juga dapat melihat perbedaan sehingga menjadi sesuatu yang indah untuk saling melengkapi.

Dengan demikian tentu Keraton Sumenep kembali dibicarakan oleh Dunia, bahkan setiap bulannya banyak tamu mancanegara hadir menyaksikan keindahan alam Sumenep. Kekayaan yang dimiliki Sumenep seperti Pulau Giliyang yang memeliki kadar oksigen terbaik kedua dunia tentu menjadi penarik terhadap bagi para wisatawan untuk menikmatinya.

Selain itu, Sumenep juga ditetapkan sebagai kota Keris, sebab memiliki pengrajin keris terbanyak se Indonesia. Penghargaan itu diberikan induk paguyuban keris Indonesia, yaitu Senopati Nusantara, pada acara Senopati Nusantara Award di Pendapa Keraton Sumenep tahun 2017 lalu.

Budaya dan Tradisi sampai hari ini tetap tidak punah. Putra putri di Sumenep sejak berada dalam kandungan hingga lahir ke muka bumi, bahkan sampai menikah terus dikenalkan dengan beragam budaya. Mulai Pelet kandung, Molang Are, hingga Toron Tana. Setelah itu memasuki usia 3 atau 4 tahun putra putri Sumenep dikenalkan dengan tradisi Tan Pangantanan dengan mengendarai Jeren Serek atau Pangantan Sonat bagi laki laki. Bahkan ketika mau menikah harus mengikuti Pingitan (Pingit) dan tradisi selanjutnya.

Prawisata alam dan Prawisata buatan kini semakin keren dan semakin bertambah pesat, Jauh sebelum Pemerintah setempat memprogramkan Visit Sumenep, para pelaku prawisata sudah mulai menyulap Sumenep menjadi pemandangan yang menarik untuk dikunjungi, seperti Bukit Tinggi di Dramista Lenteng, Taman Tectona di Batuan, Waterpark, Pantai 9 di Giligenting, Pantai Gili Labak, Pantai Ropet di Giliyang, Pantai Lombang, Pantai Slopeng dan tempat wisata lainnya.

Apalagi dari segi Wisata Relegi, seperti Masjid Jamik yang memiliki arsitektur khas di Nusantara, Asta Tinggi tempat pesarean Para Raja dan keluarganya, dan Asta Yusuf di Talango. Selain itu tak kalah pentingnya adalah Keraton Sumenep yang hari ini ditempati para Raja se ASEAN. Keraton ini salah satu Keraton satu-satunya Keraton yang masih berdiri tegak di Jawa Timur.

Karaton Panembahan Somala atau Keraton Sumenep ini dibangun di sebelah timur karaton milik Gusti R Ayu Tirtonegoro dan Kanjeng Temenggung Ario Tirtonegoro. Konon Bangunan Kompleks Karaton sendiri terdiri dari banyak massa, tidak dibangun secara bersamaan namun di bangun dan diperluas secara bertahap oleh para keturunannya.

Kesederhanaan Keraton Sumenep menjadi ciri khas tersendiri, bangunannya meliputi Gedong Negeri, Pengadilan Karaton, Paseban, dan beberapa bangunan Pribadi Keluarga Karaton. Di depan keraton, ke arah selatan berdiri Pendapa Agung dan di depannya berdiri Gedong Negeri yang didirikan oleh Pemerintahan Belanda.

Konon, Pembangunan Gedong Negeri sendiri dimaksudkan untuk menyaingi kewibawaan keraton Sumenep dan juga untuk mengawasi segala gerak-gerik pemerintahan yang dijalankan oleh keluarga Keraton. Selain itu Gedong Negeri ini juga difungsikan sebagai kantor bendahara dan pembekalan Karaton yang dikelola oleh Patih yang dibantu oleh Wedana Keraton.

Disebelah timur Gedong Negeri tersebut berdiri pintu masuk keraton Sumenep yaitu Labang Mesem. Pintu gerbang ini sangat monumental, pada bangian atasnya terdapat sebuah loteng, digunakan untuk memantau segala aktifitas yang berlangsung dalam lingkungan keraton. Di bagian pojok disebelah timur bagian selatan Labhang Mesem berdiri Taman Sare (tempat pemandian putra-putri Adipati) dimana sekelilingnya dikelilingi tembok tembok yang cukup tinggi dan tertutup. (*)